Wow! Griya Cokelat Gunung Kidul, Bisa Raup Rp 50 Juta per Bulan
Selasa, 29 Agustus 2017 | 08:30 WIB

Brilian - Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak beberapa tahun terakhir menjadi salah satu wilayah penghasil biji kakao sebagai bahan utama pembuatan cokelat. Salah satunya yakni Griya Cokelat yang diproduksi di Desa Nglanggeran.
Sejak 2014 hingga saat ini, Griya Cokelat yang merupakan sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) tersebut berhasil mengembangkan berbagai produk olahan cokelat yang berasal dari hasil pertanian penduduk setempat.
Manajer Griya Cokelat, Sugeng Handoko, mengatakan pengolahan cokelat di Desa Nglanggaran terjadi sejak ada bantuan dari Bank Indonesia. Sebelumnya, masyarakat hanya menjual cokelat dalam bentuk mentah atau kering ke pengepul seharga Rp 4.000-Rp 5.000 per kg.
"Bank Indonesia (BI) masuk pada tahun 2014, dari petani kami beli Rp 8.000 per kg. Dari petani kami rekrut untuk sektor biji basah. Biji kering itu yang kelola ibu-ibu PKK. Dulu petani itu jual sendiri, ada yang ke PT Pagelaran dibeli murah " kata Sugeng di Griya Cokelat, Desa Nglarenggan, Gunungkidul, Yogyakarta, Minggu (27/8).
Untuk diketahui, Desa Wisata Nglanggeran awalnya dikembangkan wisata Gunung Api Purba, lalu dibangun embung Nglanggeran dan sekarang berkembang menjadi pengolahan cokelat. Seluruh bidang usaha langsung melibatkan masyarakat sekitar.
Desa wisata Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta, menjadi desa wisata terbaik di Indonesia dan akan menerima penghargaan di ASEAN CBT (community based tourism) Award. Tahun 2017 merupakan 1st ASEAN CBT Award yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Tourism Forum 2017.
Sugeng mengaku pendampingan dari Bank Indonesia cukup membantu pertumbuhan produksi cokelat di Nglanggaran. Saat ini, ada 645 orang yang terlibat dalam produksi di Griya Cokelat dari sebelumnya hanya 100 orang. Mereka berasal dari lima dusun di wilayah Nglanggeran.
Produk-produk olahan kakao tersebut di antaranya cokelat bubuk, dodol, cokelat susu, kripik pisang selimut cokelat, dodol cokelat, dan lainnya. Harganya bervariasi, untuk cokelat bubuk dijual Rp 50 ribu berisi 10 sachet, cokelat susu seharga Rp 59 ribu, dan kripik pisang selimut cokelat Rp 13 ribu.
Dalam sebulan, omzet Griya Cokelat bisa mencapai Rp 39 juta hanya dari produk cokelat bubuk. Sementara jika diakumulasikan untuk seluruh produk olahan tersebut omzetnya dalam sebulan bisa mencapai Rp 50 juta.
"Kapasitas produksi kami sekarang permintaan pasar sudah besar. Omzet sebulan kalau semua produk bisa Rp 40-50 juta," ujarnya.
Sugeng mengatakan pemasaran yang dilakukan Griya Cokelat juga mengikuti perkembangan era digital, yakni dengan menggunakan media sosial dan dijual di beberapa toko oleh-oleh di Yogyakarta.
"Kami aktif di media sosial dan onlineshop, jadi ada permintaan dari luar kami kirim. Kalau di Yogyakarta kami taruh di toko oleh-oleh. Bisa follow instagram kami @griya.cokelat.nglanggeran," ucap Sugeng.
Meskipun sudah berkembang cukup pesat, Sugeng mengaku masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi usaha Griya Cokelat. Salah satunya peralatan mesin yang sudah lama, sedangkan kapasitas produksi sudah mulai banyak.
"Kapasitas kami sudah mulai banyak ya, sementara mesin kami masih lama. Misalnya kami butuh alat untuk pemisahan lemak cokelat," kata dia. Sugeng mengatakan pihaknya akan bermitra dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk pengembangan produksi cokelat.
Sumber: kumparan.com

