Bermodal Rp 20 Ribu, Penjual Songket Kini Beromzet Rp 200 Juta
Sabtu, 5 Februari 2022 | 11:00 WIB

LINK UMKM - Membangun usaha bersama memang tidak mudah. Butuh ketekunan, keseriusan, dan konsistensi untuk menjaga kualitas produk tetap baik. Terlebih jika sudah berbenturan dengan urusan modal.
Pengalaman seperti inilah yang pernah dirasakan pria asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yus Lusi. Bersama sang istri, Dorce Lusi, mendirikan Sentra Tenun Ina Ndao dengan modal Rp20 ribu pada tahun 1991.
Dengan uang yang dimilikinya saat itu, Yus membeli benang dan bahan baku menenun, dia juga mengajak seorang rekannya untuk mendirikan Ina Ndao. Tak lupa sang mertua juga turut diajak untuk mengembangkan tenun ikat.
“Memang di tahun-tahun awal penjualan sangat minim. Sebulan mungkin laku 1-2 lembar kain seharga Rp 50 ribu—Rp 60 ribu per lembar. Itu berjalan sepanjang tahun,” kata dia.
Sentra tenun ikat ini mulai “ bernapas” saat krisis moneter 1997. Ketika itu, ada pesanan dari Ikatan Wanita Buruh Indonesia sebanyak 200 lembar dengan harga Rp500 ribu per lembar. Inilah awal mula Yus mengembangkan bisnis tenun ikat bersama sang istri.
Kini, Ina Ndao telah mendidik ribuan UKM tenun dan meminjamkan modal usaha bagi 200-300 UKM tenun dengan dana Rp1 juta—Rp5 juta per UKM setiap tahun. Setiap bulannya, Ina Ndao bisa menghasilkan 40 lembar kain tenun dari belasan penenun tetap. Jumlah ini belum termasuk dari hasil tenunan mitra binaannya.
Yus berujar bahwa hubungan mitra binaan dengan Ina Ndao tidaklah mengikat. UKM binaannya bebas menjual tenun ikat kepada siapa pun.
“Kalau harga jual ditawar lebih tinggi ditempat lain silahkan. Kalau lebih rendah dari Inda Ndao, silahkan jual ke kita. Tetapi syaratnya teta jaga kualitas. Kami tidak menerima sembarangan produk tenun,” kata dia.
Yus mengatakan pihaknya menghargai satu lembar kain dari harga bahan baku, lama penenunan, keindahan, jenis benang, dan pewarnaan. Harga tenunnya bervariasi, dari Rp 30 ribu sampai Rp 4 jt per lembar.
Dalam sebulan, sentra tenun ikat ini membukukan omzet hingga Rp 200 juta. Yus dan Dorce menyisihkan 10 persen dari keuntungan untuk memajukan Ina Ndao.



