Suku Bunga BI Naik, BRI Jaga Bunga Kredit Mikro UKM

Senin, 21 Mei 2018 | 08:00 WIB

Logo Bank Bank Rakyat Indonesia

Brilian - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) berusaha menjaga bunga kredit mikro usaha kecil menengah (UKM) tidak terlalu cepat naik. Hal ini menyusul kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen.

"Saya perhatikan benar jika terkait suku bunga kredit mikro UKM," ujar Direktur Utama BRI Suprajarto.

Debitur BRI di segmen mikro UKM cukup besar dan sebagian besar berasal dari kelas menengah ke bawah.

Menurut Suprajarto, kenaikan tingkat suku bunga acuan BI 25 bps karena mempertimbangkan kenaikan bunga acuan The Fed. Jika kondisi ke depan terkendali dan The Fed menaikkan bunga acuan sesuai proyeksi, BI memang harus mengambil langkah penyesuaian.

Apabila BI tidak melakukan perubahan suku bunga acuan lagi, BRI berusaha tidak akan menaikkan suku bunga kredit sampai akhir tahun 2018 dan kemungkinan akan menaikkannya tahun depan.

Bank membutuhkan waktu untuk menyesuaikan suku bunga kredit untuk menjaga margin atau net interest margin (NIM). Sebagai gambaran, berdasarkan data suku bunga dasar kredit (SBDK) BRI per 31 Maret 2018, suku bunga kredit mikro masih 17,5 persen. Bunga kredit korporasi 9,95 persen, kredit ritel 9,75 persen dan bunga kredit konsumsi non KPR sebesar 12,5 persen.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan kebijakan menaikkan tingkat suku bunga acuan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas makro ekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kebijakan tersebut dianggap masih selaras dengan target inflasi yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5 persen plus minus 1 persen pada 2018.

“BI tetap fokus dalam menjaga stabilitas perekonomian yang menjadi landasan utama bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” kata Agus.

Agus menambahkan, sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu perekonomian domestik. Dia mencontohkan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia, kenaikan harga minyak dan kemungkinan berlanjutnya perang dagang AS-Cina. 

Komentar

Media Lainnya

Hi!👋
Linda (Link UMKM Digital Assistant)
Chat via WhatsApp disini !

x