Tembus Eropa, Batik Jambi Dipamerkan di Paris
Selasa, 19 Juni 2018 | 22:20 WIB

Brilian - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memfasilitasi sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) batik nasional berpartisipasi dalam pameran internasional di UNESCO Headquarters, Paris, Prancis. Pameran kali ini bertajuk “Indonesia Batik For The World”.
Tujuannya untuk menunjukkan kekayaan budaya batik nasional, kompetensi pengrajinnya dan kelangsungan industri batik Indonesia kepada dunia. Pada pameran tahun ini, terdapat 100 kain batik kualitas premium yang dipamerkan para pengrajin IKM batik dari berbagai daerah.
“Kini, batik Indonesia semakin menunjukkan jati dirinya di berbagai pameran dunia,” ujar Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta.
Pameran telah berlangsung pada 6-12 Juni 2018 lalu. Pameran ini dalam rangka memperingati 9 tahun Kain Batik Indonesia masuk daftar perwakilan warisan budaya sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO. Pengakuan UNESCO telah diberikan sejak 2 Oktober 2009 lalu.
Salah satu peserta pameran adalah Batik Azmiah, IKM batik kelas premium dari Provinsi Jambi yang telah menembus pasar Eropa. Pada tahun 2015, Kemenperin memberikan penghargaan One Village One Produk (OVOP) Bintang 3 Kategori Batik kepada Batik Azmiah.
Dikatakan Gati, Rumah Batik Azmiah merupakan IKM batik yang telah terkenal dengan penggunaan warna klasik dan corak unik. Hal yang membedakan batik Azmiah dengan lainnya adalah prosesnya yang melalui lebih dari enam kali pewarnaan sehingga menghasilkan warna menarik.
“Beberapa motif yang diproduksi antara lain kapal sanggat, tampuk manggis, bungo keladi, serta merak ngeram,” katanya.
Industri batik berperan penting bagi perekonomian nasional. Sebagai market leader, Indonesia telah menguasai pasar batik dunia dan menjadi penggerak perekonomian regional dan nasional.
Kemenperin mencatat, nilai ekspor batik dan produk batik pada tahun 2017 mencapai 58,46 juta dolar AS dengan pasar utama eskpor ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Ini menujukkan industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional.
Saat ini, industri batik didominasi oleh pelaku IKM yang tersebar di 101 sentra di seluruh Indonesia. Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 15 ribu orang.
“Kami terus berupaya meningkatkan daya saing dan produktivitas industri batik nasional. Langkah strategis yang dilaksanakan, antara lain program peningkatan kompetensi SDM, pengembangaan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan serta promosi dan pameran,” paparnya.

