5 Sektor Industri Jadi Prioritas Revolusi Industri 4.0

Minggu, 16 September 2018 | 09:01 WIB

Ilustrasi kain tekstil (Pixabay)

Brilian - Pengembangan lima sektor industri diprioritaskan pengembangannya untuk menjadi pionir pada tahap awal implementasi Making Indonesia 4.0, Kelima sektor industri itu adalah makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir dengan penerapan industri 4.0, karema bukan untuk mengurangi tenaga kerja. Namun sebaliknya, apabila anak-anak muda dipersiapkan dengan meningkatkan keterampilannya, akan memberi peluang lebih besar dalam menyerap tenaga kerja.

Mereka, lanjut Ngakan, tidak perlu kerja kantoran. Dia mencontohkan seorang desainer bisa bekerja di rumah dengan menggunakan peralatan komputernya dan menjual desainnya.

"Bisa menghasilkan produk di tempat yang tidak perlu besar, sehingga akan terjadi mass customize production. Jadi mereka bisa menghasil produk banyak sesuai pesanan dan sedikit sesuai selera masyarakat. Inilah yang akan membentuk kantong-kantong kerja yang baru,” ujarnya.

Terkait penerapan industri 4.0 terhadap sekor industri kecil menengah (IKM), Kemenperin telah melatih keterampilan mereka melalui worskop e-Smart IKM. Tujuannya agar mereka bisa memanfaatkan marketplace yang ada. Hingga saat ini, program e-Smart IKM ini telah diikuti lebih dari 4.000 IKM. Pemberdayaan IKM melalui teknologi digital ini juga merupakan salah satu prioritas dalam Making Indonesia 4.0.

Menurut dia, revolusi industri 4.0 merupakan lompatan besar di sektor manufaktur, dengan pemanfaatan teknologi otomatisasi tinggi yang ditopang infrastruktur berbasis internet. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilaiproses produksinya.

“Kuncinya industri 4.0 itu antara lain SDM dan infrastruktur digital. Sementara teknologi diperlukan guna membangun konektivitas yang terintegrasi,” kata Ngakan.

Revolusi Industri 4.0 dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sehingga akan terjadi penurunan biaya produksi sehingga harga produk turun yang pada akhirnya akan meningkatkan daya beli dan mudah dijangkau kalangan berpendapatan rendah.

“Dari pengalaman industri yang menerapkan industri 4.0, efisiensinya sangat tinggi antara 20 -30 persen. Ini tergantung dari sektor industrinya,” ungkapnya.

Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sebesar 1-2 persen per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5 persen menjadi 6-7 persen selama tahun 2018-2030.

Selain itu, rasio ekspor netto akan meningkat kembali sebesar 10 persen terhadap PDB. Produktivitas dengan adopsi teknologi dan inovasi juga akan meningkat serta mewujudkan pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 10 juta orang pada tahun 2030.

Komentar

Media Lainnya

Hi!👋
Linda (Link UMKM Digital Assistant)
Chat via WhatsApp disini !

x