Sri Mulyani Berbagi Cerita Tentang Dua UKM yang Sukses Ekspor
Kamis, 20 September 2018 | 14:00 WIB

Brilian - Menteri Keuangan Sri Mulyani melakukan dialog dengan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) ekspor di Denpasar, Bali. Kedua UKM ekspor tersebut pembiayaannya dibantu Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), sebuah lembaga negara yang bertujuan membantu pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekspor nasional.
Hal itu diungkapkan Sri Mulyani melalui laman facebooknya @Sri Mulyani Indrawati pada Rabu (19/9/2018). Menurut Sri Mulyani, kedua pengusaha UKM ekspor itu adalah Tri Dwi Hantoro dan I Wayan Sukhana.
"Saat ini negara kita tengah berupaya untuk menyeimbangkan ekspor dan impor, oleh karena itu saya melihat sosok Pak Tri dan Pak Wayan ini dapat memberikan inspirasi dan contoh sukses bagi pengusaha kecil," ujarnya.
Dua puluh enam tahun lalu, Tri Dwi Hantoro memulai sebuah usaha kerajinan kulit dengan bermodalkan Rp500 ribu dengan dibantu lima pengrajin. Saat ini, usaha tersebut sudah berkembang dengan 50 pegawai staf dan 300 pengrajin yang tersebar di Bali, Banyuwangi dan Ponorogo.
Penjualan rata-rata setiap enam pekan berkisar 7.500-15.000 produk yang diekspor ke Jepang, Korea, Turki, Inggris, Singapura dan Italia. Produk yang dijual melalui CV. La Chidehafu ini berkembang menjadi kerajinan garmen dan kulit, antara lain pakaian, dompet, clutch, sepatu, dan tas.
Sementara, di usia yang tidak lagi muda, I Wayan Sukhana bersama istrinya Made Yuliana membuka usaha di bidang aromatherapy sekitar 15 tahun yang lalu. Dari usaha rumah tangga, bisnis ini berkembang menjadi perusahaan penghasil produk perawatan kecantikan yang menggunakan bahan alam organik dan menjual produknya ke luar negeri. Negara tujuan ekspor PT Bali Tangi antara lain Australia, Maladewa Belanda dan Rusia.
"Kedua usaha tersebut di atas mempunyai kesamaan yaitu memberikan kesempatan bekerja kepada penyandang difabel dan mayoritas pekerja merupakan kaum wanita yang berasal dari ibu rumah tangga yang berada di sekitar lokasi usaha. Bahkan pengrajin binaan La Chidehafu ada juga yang berasal dari anak jalanan, pengamen dan pengemis," katanya.
Setelah memperoleh pembiayaan LPEI di awal 2017, pada akhir 2017 nilai ekspor La Chidehafu meningkat 14,2 persen dibandingkan 2016. Fasilitas yang diberikan LPEI sejak tahun 2017 mampu meningkatkan kapasitas produksi PT Bali Tangi menjadi lebih dari 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kesuksesan yang diraih dengan diawali modal seadanya namun dengan ketekunan terus menerus sehingga akhirnya bisa menembus pasar luar negeri. Kita membutuhkan ribuan bahkan jutaan orang seperti Pak Tri dan Pak Wayan bagi perekonomian Indonesia," kata Sri Mulyani.



