Sejak Diluncurkan, 4000 Pelaku Usaha Ikut Workshop e-Smart IKM

Senin, 24 September 2018 | 15:00 WIB

Ilustrasi e-commerce (Pixabay)

Brilian - Potensi program e-Smart Industri Kecil Menengah (IKM) masih sangat besar dan akan terus berkembang seiring banyaknya pelaku IKM yang menggunakan platform digital. Sejak diluncurkan awal 2017, sebanyak 4.000 pelaku IKM telah terlibat dalam kegiatan worskhop e-Smart IKM.

“Komoditas yang mendominasi dari para peserta tersebut, yakni logam sebesar 48,26 persen, kemudian fesyen 30,72 persen, serta makanan dan minuman 14,01 persen. Sementara nilai transaksi e-commerce Indonesia sampai saat ini sudah mencapai Rp300 triliun," ujar Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar.

Program e-Smart IKM merupakan sistem database IKM yang tersaji dalam profil industri, sentra, dan produk yang nantinya diintegrasikan dengan marketplace yang sudah ada. Manfaat mengikuti program e-Smart IKM adalah perluasan pasar bagi IKM melalui promosi online, efektivitas dan efisiensi biaya promosi dan pemasaran, serta mendapatkan program pembinaan dari pemerintah.

Program ini mengusung 9 komoditas unggulan yang akan dikembangkan pemasarannya melalui e-commerce. Sembilan komoditas itu adalah kosmetik, fashion, makanan, minuman, kerajinan, perhiasan, furnitur, herbal, dan produk logam.

Kemenperin terus berperan aktif mewujudkan “Indonesia Kuat” melalui peningkatan produktivitas dan daya saing industri potensial di dalam negeri. Langkah strategis ini diyakini mampu menjadi fondasi yang kokoh guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.

Upaya yang dilakukan, antara lain implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, menekan defisit neraca perdagangan, pengembangan perwilayahan industri, pengembangan kualitas SDM melalui pendidikan vokasi yanglink and match dengan Industri, dan pelaksanaan program e-Smart IKM.

Making Indonesia 4.0 akan dijadikan strategi untuk kesiapan memasuki era revolusi industri generasi keempat. Kesuksesan implementasi Making Indonesia 4.0 diprediksi mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5 persen menjadi 6-7 persen pada periode 2018-2030.

Menurut Haris, terdapat lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya dan ditetapkan sebagai industri pionir dalam memasuki era digital. Kelima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, industritekstil dan pakaian, industriotomotif,industri elektronika, serta industrikimia.

“Lima sektor industri prioritas itusudah mempunyai daya ungkit besar dalam hal penciptaan nilai tambah, perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lainnya, serta kecepatan penetrasi pasar,” tuturnya.

Komentar

Media Lainnya

Hi!👋
Linda (Link UMKM Digital Assistant)
Chat via WhatsApp disini !

x