Peran IKM Menjadikan Indonesia Kiblat Fesyen Muslim Dunia
Rabu, 3 Oktober 2018 | 14:31 WIB

Brilian - Indonesia berpeluang besar menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Selain didukung kekuatan pasar sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia sudah memiliki industri fesyen berdaya saing global.
“Di samping itu, desainer-desainer kita semakin tumbuh dan berkembang. Dan, kami melihat industri fesyen merupakan sektor yang mampu meningkatkan nilai tambah dari industri tekstil. Makanya, ini yang perlu terus didorong,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
Dikatakan Airlangga, industri fesyen merupakan salah satu sektor strategis dan prioritas dalam pengembangannya. Sektor ini telah mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Nilai ekspor industri fesyen mencapai 8,2 miliar dolar AS pada Januari-Juli 2018. Angka ini tumbuh 8,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dengan performance tersebut, menunjukkan bahwa produk fesyen kita sudah diakui kualitasnya dan banyak diminati oleh mancanegara,” kata Airlangga.
Saat ini, market share produk fesyen Tanah Air mampu menguasai 1,9 persen dari pasar dunia. Pencapaian ini menempatkan Indonesia dalam jajaran lima besar dari negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang menjadi pengekspor fesyen muslim terbesar di dunia, setelah Bangladesh, Turki, Maroko, dan Pakistan.
“Kami terus memperluas pasar ekspor, yang selama ini masih didominasi ke negara-negara sekitar seperti Asean dan negara-negara di Timur Tengah,” imbuhnya.
Global Islamic Economy memprediksi pertumbuhan pasar fesyen muslim dunia pada tahun 2020 akan mencapai USD327 miliar.
“Peluang pasar ini yang perlu kita rebut, karena industri fesyen kita sudah mampu kompetitif di kancah internasional termasuk peran dari sektor industri kecil dan menengah (IKM),” paparnya.
Kemenperin terus memacu daya saing IKM dan desainer fesyen muslim di Indonesia, untuk terus berinovasi, meningkatkan produktivitasnya serta memperkuat brand-nya sehingga mampu menembus pasar ekspor. Apalagi, revolusi industri 4.0 menuntut pelaku usaha memanfaatkan teknologi digital atau mengintergrasikan internet dengan lini produksinya.

