Tekan Impor, Industri Komponen Elektronika Diperkuat
Senin, 22 Oktober 2018 | 14:35 WIB

Brilian - Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Bandung berkomitmen melakukan penguatan terhadap industri komponen elektronika di dalam negeri. Hal ini untuk meningkatkan suplai bahan baku dasar domestik dan membangun kemampuan manufaktur komponen bernilai tambah tinggi.
Kepala Badan Penelitian dan Pengambangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara mengatakan upaya tersebut sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0. Fokus Making Indonesia 4.0 pada perbaikan aliran material dalam mendukung proses produksi sektor manufakturnya sehingga mengurangi ketergantungan impor.
B4T Bandung sebagai UPT di bawah BPPI Kemenperin siap menyediakan sarana riset dan perekayasaan. Selain itu B4T juga mendukung pelayanan standardisasi melalui laboratorium pengujian untuk komponen elektronika, di antaranya resistor, switch dan relay, inductor, lilitan, serta baterai.
“Dengan penerapan roadmap Making Indonesia 4.0, diharapkan dapat mengembangkan para pemain lokal andalan yang berkemampuan tinggi dalam mengurangi rasio impor untuk komponen elektronika sebesar 20 persen hingga tahun 2021,” ujarnya.
Dalam Making Indonesia 4.0, pemerintah juga berupaya menarik investasi industri elektronika kelas dunia. Tujuannya agar kedepan manufaktur domestik memiliki daya saing global.
“Sehingga kita dapat membangun manufaktur kelas atas, seperti yang memiliki kemampuan dalam industri komponen ponsel dan baterai untuk kendaraan listrik,” katanya.
Selain itu dibutuhkan peningkatan kompetensi tenaga kerja. Langkah lainnya adalah memacu inovasi lokal misalnya dengan membangun litbang nasional, pemberian insentif litbang swasta, dan transfer teknologi dari perusahaan kelas dunia.
“Jadi, nantinya selain assembly, kita juga mampu untuk mendesain dan menghasikan produk komponen elektronikayang inovatif dengan ditunjang tenaga kerja terampil,” kata Ngakan.
Kemenperin mencatat, investasi industri elektronika mencapai Rp8,34 triliun pada tahun 2017, terdiri dari penanaman modal asing (PMA) Rp7,65 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp690 miliar. Capaian investasi tahun lalu meningkat dibanding tahun 2016 yang tercatat Rp5,97 triliun dan tahun 2015 di angka Rp3,51 triliun.
Perkembangan investasi di antaranya dari industri televisi, peralatan perekam, consumer electronics, dan peralatan fotografi. Selain itu, terdapat juga industri komponen, antara lain sektor manufaktur untuk baterai dan aki, peralatan lighting elektrik, peralatan elektrotermal rumah tangga, serta domestic appliances.
Populasi sektor ini tumbuh hingga 67 unit usaha tahun 2017 atau naik dibanding tahun sebelumnya yakni 57 unit usaha. Kemenperin menargetkan, pertumbuhan populasi sektor ini di tahun 2018 bisa mencapai lebih dari 72 unit usaha.



