Mau Gunakan Medsos untuk Jualan? UMKM Harus Tahu, ini Tips-nya
Selasa, 8 Agustus 2017 | 09:02 WIB

Brilian - Media sosial sudah sangat populer di masyarakat. Selain untuk berbagai berita dan informasi, penggunaan media sosial yang sangat masif di tengah publik juga bisa membantu kalangan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM).
Hal ini mendorong Kementerian Koperasi dan UKM menggelar workshop soal pemanfaatan media sosial, untuk mendongkrak penjualan produk UMKM. Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengatakan, pemanfaatan medsos bisa mengatasi hambatan jarak, ruang dan waktu.
“Dengan begitu, jika produk UMKM dipasarkan melalui media sosial bisa menekan harga barang,” kata Agus dalam sambutannya pada acara tersebut di Jakarta, Senin (31/7). Tampilan media sosial, lanjut Agus, juga bisa menjadi ruang pamer bagi produk-produk UMKM. Untuk mempromosikan barang dagangan, tak lagi butuh ruang yang besar untuk memajang produknya.
“Di kamar pun bisa membuka toko online. Waktu tanpa batas, bisa kapan saja dan dimana saja, tidak terhambat,” lanjutnya.
Pembicara utama dalam workshop tersebut, Billy Boen, mengungkapkan bahwa ada perubahan perilaku konsumen saat ini. Yaitu 84% konsumen membeli barang karena medsos (Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan LINE). "Maka, sayang sekali bila UMKM tidak memanfaatkan medsos untuk meningkatkan penjualan produknya", kata Founder & CEO Young On Top dan GDIlab.com itu.
Menurut Billy, manfaat medsos diantaranya meningkatkan jangkauan dan eksposur (brand awareness), berinteraksi dengan follower (engagement), dan berikan solusi kepada follower (selling). "Jadi, dalam medsos itu selling nomor tiga, setelah brand awareness dan engagement. Baru kemudian akan menciptakan apa yang dinamakan brand loyality", kata Billy.
Billy pun mengutarakan apa yang harus UMKM lakukan dalam bermedsos-ria untuk memasarkan produknya. Pertama, harus tahu apa yang follower suka dan tidak suka, termasuk kapan mereka membuka medsos. Kedua, harus mengetahui apa yang dikatakan follower terhadap brand produknya (brand perspective). Ketiga, harus mengetahui apa yang diposting dalam medsos, kapan soft sell, kapan hard sell (right contents). Keempat, mampu memenej ekspektasi follower terhadap brand produk Anda.
Sumber: depkop.go.id

